Wisata Ladang Lavender yang Pas Dijadikan Destinasi Tempat Wisata Saat Liburan

Kabar gembira bagi anda yang selalu di sibukkan pada hari biasa oleh pekerjaan yang selalu menguras tenaga dan fikiran anda. Liburan akhir tahun semakin dekat, Tempat-tempat wisata pun sudah banyak mengadakan promo-promo. Sebagian dari anda pun pasti sudah memilih destinasi tempat wisata untuk menikmati liburan akhir tahun entah bersama pasangan atau pun bersama keluarga. Apakah tempat yang satu ini pun menjadi tempat yang anda tuju untuk menikmati liburan anda ?


Di tempat yang satu ini anda akan melihat hamparan bunga lavender berwarna ungu yang sangat luas, mungkin luasnya sekitar sepuluh hektar. Itulah yang akan ada saksikan ketika anda mengunjungi Bridestowe Lavender Estate di Nabowla, yang berjarak sekitar 250 kilometer disebelah utara kota Hobart, Tasmania. Namun, musim panen lavender adalah pada Januari dan pada saat itulah seluruh ladang milik Bridestowe Estate ini seluruhnya berwarna ungu.

Meski sebagian besar bunga lavender belum mekar di awal Desember, tak menghalangi sejumlah wisatawan untuk menikmati suasana di Bridestowe Lavender Estate, Tasmania. Di sana kami disambut Robert Ravens, direktur sekaligus pemilik perkebunan yang sudah berusia nyaris satu abad ini Setelah makan siang bersama sekelompok wisatawan lokal dan Selandia Baru, Robert kemudian mengajak kami ke salah satu blok ladang itu. Robert mengatakan, di salah satu blok itu bunga lavender, entah mengapa, sudah terlebih dulu berbunga.

"Seluruh lahan di perkebunan ini adalah 160 hektar tetapi hanya 44 hektar saja yang kami tanami lavender. Sisanya kami biarkan menjadi hutan," ujar Robert. Sambil berjalan menuju ladang lavender, Robert mengatakan, bunga ini selain diolah untuk diambil minyaknya yang wangi juga memiliki banyak manfaat. Robert Ravens, pemilik Bridestowe Lavender Estate, memberi kesempatan pengunjung mencoba minyak wangi produksi perkebunan itu. "Bahkan di dalam semua makanan yang kita santap tadi memiliki unsur lavender di dalamnya. Lavender bisa memperkuat cita rasa makanan sehingga menambah selera," kata dia.

Sekitar lima menit berjalan kaki, kami pun tiba di salah satu blok perkebunan yang sudah mulai berwarna ungu. Para wisatawan yang datang terlihat amat antusias berjalan di sela-sela bunga-bunga lavender yang mulai mekar. "Perkebunan ini menjadi tempat wisata milik swasta terbesar yang ada di belahan bumi sebelah selatan," kata Robert. Meski demikian, sebenarnya Bridestowe Lavender Estate belum lama dibuka sebagai tempat wisata. Perkebunan ini baru benar-benar menjadi lokasi plesir pada 2010. Seorang wisatawan sedang berbincang sambil menikmati es krim lavender berwarna ungu.

"Kami memutuskan menjadikan tempat ini sebagai lokasi wisata karena pendapatan kami dari menjual minyak lavender sudah tak mencukupi," kata Robert. Setelah memutuskan untuk membuka perkebunannya sebagai tempat wisata, Robert lalu mempromosikan tempat ini ke beberapa negara Asia. Mengapa ke Asia? "Sebab, jika untuk bangsa Eropa tanaman lavender sudah bukan hal unik. Namun, tak demikian dengan warga Asia," kata dia. Jerih payah Robert tak sia-sia, sebab saat ini 70 persen pendapatan Bridestowe Lavender Estate berasal dari para wisatawan.

"Memang terkadang ada tanaman kami yang rusak terinjak-injak tetapi itu harga yang harus kami bayar, dan selama sepadan kami tak mempermasalahkannya," Robert menegaskan. Setelah melihat ladang lavender, Robert mengajak kami ke tempat penyulingan yang mengolah bunga lavender menjadi minyak wangi. "Di masa panen kami bisa menghasilkan 1.500 ton bunga lavender yang bisa menghasilkan hingga 400.000 botol minyak wangi," papar Robert. Berbagai produk lavender yang dipajang di toko Bridestowe Lavender Estate, Sebagian besar minyak wangi lavender itu diekspor ke Jepang dan China. Kini lavender tak hanya diolah menjadi minyak wangi saja.

"Wisatawan juga bisa membeli teh lavender, cokelat, hingga es krim lavender di toko dan kafe kami," kata Robert lagi. Tempat wisata unik ini buka pukul 10.00 hingga 16.00 setiap hari pada Mei-Agustus. Lalu pada September-April buka pada pukul 09.00 hingga 17.00 setiap hari. Lalu berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke tempat wisata ini? Setiap pengunjung dikenai tiket 10 dollar Australia atau sekitar Rp 100.000 di musim bunga yaitu awal Desember hingga akhir Januari. Tempat wisata menarik ini buka sepanjang tahun dan hanya tutup pada hari libur Natal.
SHARE

About Eka Frasisca

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar